Heboh! Peserta UTBK Undip Curang Tanam Alat Canggih di Telinga, Begini Modusnya!
Kejadian yang terungkap pada sesi pagi hari ini langsung menjadi sorotan nasional. Petugas pengawas ujian yang sedang melakukan pemantauan ketat di salah satu ruangan tes di Fakultas Teknik Undip mencurigai gerak-gerik peserta berinisial A.P. (20), mahasiswa calon pendaftar dari luar Jawa. Awalnya, petugas hanya melihat gerakan kepala yang tidak biasa dan ekspresi wajah yang tegang meski soal yang dikerjakan terlihat mudah. Namun, ketika dilakukan pemeriksaan mendadak, petugas menemukan benda kecil berukuran sebesar kacang kedelai yang tertanam di saluran telinga kanan peserta.
Modus Kecurangan yang Sangat Terencana
Menurut penjelasan resmi yang disampaikan panitia UTBK Undip, alat tersebut bukan sekadar earphone biasa. Perangkat canggih ini dilengkapi teknologi Bluetooth Low Energy generasi terbaru yang mampu menerima sinyal suara secara real-time tanpa kabel. Alat ini diduga terhubung dengan ponsel atau perangkat eksternal yang disembunyikan di luar area ujian, kemungkinan besar dioperasikan oleh orang lain yang bertindak sebagai “tutor dadakan”.
“Alat ini begitu kecil dan hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Bahkan ketika peserta masuk ruangan, tidak ada yang mencurigakan karena bentuknya mirip dengan alat bantu dengar medis biasa,” ujar Koordinator Pengawas UTBK Undip, Dr. Ir. Budi Santoso, M.T., saat dikonfirmasi di lokasi.
Lebih mengejutkan lagi, perangkat itu dilaporkan memiliki fitur noise-cancelling aktif dan baterai yang tahan hingga 8 jam. Cara penanamannya pun diduga dilakukan secara profesional beberapa hari sebelum ujian, mungkin melalui klinik kecantikan atau praktik tidak resmi yang memanfaatkan teknologi mikro-elektronik.
Peserta tersebut langsung diamankan dan diinterogasi oleh tim gabungan panitia dan pihak keamanan kampus. Ia mengaku mendapatkan alat tersebut melalui seorang “broker” yang menawarkan jasa lewat grup chat tertutup di media sosial. Harga yang dibayar disebut-sebut mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jurusan yang dituju.
Reaksi Cepat Pihak Penyelenggara
Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Edy Prasetyono, langsung mengeluarkan pernyataan tegas. “Kami tidak akan mentolerir segala bentuk kecurangan dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Integritas menjadi pondasi utama pendidikan tinggi. Peserta yang bersangkutan sudah kami diskualifikasi dan kasusnya akan dilaporkan ke LTMPT serta pihak berwenang untuk diproses sesuai hukum,” tegasnya.
Panitia LTMPT Pusat juga merespons cepat dengan mengeluarkan edaran darurat kepada seluruh lokasi UTBK di Indonesia agar meningkatkan protokol keamanan. Mulai besok, pemeriksaan akan diperketat dengan penggunaan detektor logam dan pemindaian tubuh lebih menyeluruh, termasuk pemeriksaan telinga dan rongga mulut.
Mengapa Kecurangan Semacam Ini Semakin Marak?
Tahun ini, UTBK SNBT 2026 mencatat peningkatan peserta hingga 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan untuk lolos ke perguruan tinggi negeri favorit membuat sebagian calon mahasiswa nekat menggunakan cara-cara instan. Teknologi yang semakin murah dan mudah diakses menjadi faktor pendorong utama.
Para ahli pendidikan menilai kasus ini bukan sekadar pelanggaran individu, melainkan gejala sistemik. “Kita harus melihat akar masalahnya. Persaingan yang terlalu ketat dan stigma bahwa hanya lulus di PTN favorit yang menjamin masa depan membuat sebagian orang putus asa,” kata pengamat pendidikan Dr. Siti Nurhaliza dari Universitas Indonesia yang dihubungi secara terpisah.
Sementara itu, di media sosial, hashtag #UTBKCurangUndip langsung trending di X dan TikTok dalam hitungan jam. Ribuan netizen menyampaikan kemarahan sekaligus keprihatinan. Banyak yang bertanya-tanya, seberapa banyak peserta lain yang mungkin menggunakan cara serupa dan belum terdeteksi.
Pelajaran Penting untuk Calon Mahasiswa
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh peserta UTBK yang masih akan mengikuti gelombang berikutnya. Panitia mengimbau agar semua calon mahasiswa mengandalkan kemampuan sendiri dan belajar dengan sungguh-sungguh. Kecurangan bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga menciderai ribuan siswa berprestasi yang bersaing secara jujur.
Bagi yang tertarik mengikuti UTBK gelombang selanjutnya, Undip dan LTMPT telah menyiapkan posko pengaduan khusus jika menemukan indikasi kecurangan di sekitar lokasi ujian. Keamanan dan keadilan seleksi menjadi prioritas utama penyelenggara tahun ini.
Kasus peserta UTBK Undip yang menanam alat canggih di telinga ini masih terus dikembangkan. Polisi dan pihak kampus sedang menelusuri jaringan yang terlibat dalam perdagangan alat-alat curang tersebut. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mendukung upaya penegakan integritas pendidikan nasional.
Kita tunggu perkembangan selanjutnya. Apakah ini hanya puncak gunung es dari praktik kecurangan berteknologi tinggi di dunia pendidikan Indonesia?

