Usai Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Prabowo Tabur Bunga & Ziarah di Makamnya
Usai menandatangani prasasti dan memotong pita merah putih di Museum Ibu Marsinah serta Rumah Singgah, Prabowo tak langsung kembali ke Jakarta. Ia memilih melanjutkan perjalanan hanya sejauh satu kilometer ke sebuah makam sederhana yang kini menjadi saksi bisu perjuangan hak-hak pekerja Indonesia.
Momen Khidmat di Makam Marsinah
Langkah Prabowo tampak tegas namun penuh hormat saat ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju pusara Marsinah. Didampingi sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, Presiden berhenti di depan nisan yang sudah ditaburi bunga segar. Ia menunduk sejenak, lalu dengan tangan sendiri menaburkan bunga mawar putih dan merah ke atas pusara.
Suasana langsung hening. Hanya terdengar suara angin dan isak pelan beberapa ibu-ibu buruh yang ikut hadir. Prabowo kemudian menundukkan kepala lebih dalam, memanjatkan doa singkat untuk mendiang Marsinah. Tak ada pidato panjang. Hanya gestur sederhana yang justru membuat ribuan pasang mata basah.
“Ini bukan sekadar ziarah,” ujar seorang warga Nganjuk yang ikut menyaksikan dari kejauhan. “Ini Presiden kita sedang bilang: kami ingat. Kami menghargai perjuangan kalian.”
Museum Ibu Marsinah: Tonggak Baru Perjuangan Buruh
Sebelum ziarah, Prabowo meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo. Dalam pidatonya yang singkat namun menggugah, Presiden menyebut peresmian ini sebagai “peristiwa langka” yang mungkin baru pertama kali terjadi di dunia sebuah museum khusus yang didedikasikan untuk perjuangan kaum buruh.
“ Museum ini bukan hanya bangunan. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan Marsinah bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk jutaan pekerja Indonesia yang masih berjuang hingga hari ini,” kata Prabowo di hadapan ratusan undangan, termasuk keluarga Marsinah, aktivis buruh, dan tokoh masyarakat setempat.
Museum ini menyimpan berbagai artefak penting: foto-foto Marsinah saat masih aktif berorganisasi, surat-surat tuntutan hak buruh, hingga rekaman suara perjuangannya yang legendaris. Di sisi lain, Rumah Singgah disediakan untuk para buruh migran atau keluarga pekerja yang membutuhkan tempat singgah sementara.
Siapa Marsinah dan Mengapa Penting?
Marsinah adalah aktivis buruh PT CPS (perusahaan sepatu) di Sidoarjo yang diculik dan dibunuh secara brutal pada 1993. Kematiannya mengguncang hati nurani bangsa dan menjadi titik balik gerakan buruh Indonesia. Tahun lalu, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pengakuan yang kini semakin bermakna dengan berdirinya museum ini.
Prabowo menekankan bahwa menghormati Marsinah bukan sekadar nostalgia. Di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika ketenagakerjaan saat ini, semangat Marsinah tentang keadilan, kesejahteraan, dan martabat pekerja tetap relevan.
Reaksi Warga Nganjuk dan Aktivis Buruh
Bagi masyarakat Nganjuk, kunjungan Prabowo hari ini terasa sangat istimewa. Desa Nglundo yang biasanya sepi mendadak ramai. Warung-warung kecil di pinggir jalan penuh pengunjung. Beberapa buruh perempuan datang dari berbagai daerah hanya untuk menyaksikan momen tersebut.
“ Kami merasa dihargai,” kata Siti, seorang buruh pabrik tekstil asal Nganjuk. “ Selama ini kami sering merasa suara kami kecil. Tapi hari ini Presiden datang sendiri, tabur bunga di makam Marsinah. Itu artinya perjuangan kami dilihat.”
Aktivis buruh yang hadir juga mengapresiasi langkah Prabowo. Mereka berharap museum ini tidak hanya menjadi tempat wisata sejarah, tetapi juga pusat edukasi dan advokasi hak-hak pekerja di masa depan.
Simbol Komitmen Pemerintah
Ziarah Prabowo ke makam Marsinah bukan tindakan seremonial biasa. Di tengah sorotan publik terhadap isu ketenagakerjaan, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah menaruh perhatian serius pada nasib para pekerja. Museum dan Rumah Singgah yang diresmikan hari ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain untuk menghargai sejarah perjuangan rakyatnya.
Prabowo sendiri mengakhiri kunjungannya dengan menyapa para petani bawang dan warga sekitar sebelum bertolak kembali ke Jakarta. Senyumnya lebar saat ia berjabat tangan dengan anak-anak sekolah yang ikut menyambut.
Penutup: Jangan Pernah Lupa
Hari ini, 16 Mei 2026, bukan hanya hari peresmian museum. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah perjuangan buruh Indonesia tidak boleh dilupakan. Dari Nganjuk, Prabowo mengirim pesan sederhana namun kuat: negara berdiri di sisi mereka yang pernah berjuang, dan terus berjuang.
Marsinah mungkin sudah tiada, tapi semangatnya kini hidup dalam setiap sudut museum baru itu dan dalam hati setiap pekerja yang masih berharap akan masa depan yang lebih adil.
Nganjuk hari ini tak lagi sama. Ia menjadi saksi bisu bahwa penghormatan terhadap pahlawan buruh bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata.
.webp)
