Alhamdulillah! 'Senang Banget' Suara Driver Ojol Usai Prabowo Pangkas Potongan Jadi 8%
“Alhamdulillah… senang banget, Pak,” ujar seorang driver ojol yang ditemui di kawasan Monas, Jumat pagi kemarin, sambil mengusap keringat di dahinya. “Selama ini kami merasa seperti bekerja untuk aplikasi, bukan untuk keluarga. Sekarang rasanya ada angin segar.”
Kebijakan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi jutaan driver ojol di Indonesia yang setiap hari mempertaruhkan nyawa di jalan raya, ini adalah kemenangan nyata. Potongan yang dulu mencapai 20 persen kini dipangkas separuh lebih. Seorang ibu rumah tangga sekaligus driver di Bekasi, misalnya, menghitung kasar: jika dulu ia bawa pulang Rp80.000 dari order Rp100.000, kini bisa Rp92.000. Selisih Rp12.000 itu, jika dikumpulkan dalam sehari 15 order, artinya tambahan hampir Rp180.000. Cukup untuk tambahan uang sekolah anak atau cicilan motor.
Mengapa Kebijakan Ini Begitu Dinanti?
Masalah potongan aplikator bukan cerita baru. Selama bertahun-tahun, driver ojol merasakan ketidakadilan yang sama: mereka yang basah kuyup hujan, terjebak macet, atau bahkan mengalami kecelakaan, justru hanya mendapat porsi kecil dari hasil kerja kerasnya sendiri. Aplikator, di sisi lain, menikmati potongan besar tanpa harus turun ke jalan.
Prabowo, dalam pidatonya yang disampaikan langsung di hadapan ribuan buruh pada peringatan Hari Buruh Internasional, menegaskan sikap tegas. “Ojol kerja keras mempertaruhkan jiwa setiap hari. Tidak adil kalau mereka hanya dapat 80 persen,” katanya. Pernyataan itu langsung disambut sorak-sorai. Tak lama kemudian, Perpres Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online resmi diteken.
Selain memangkas potongan, aturan ini juga membawa angin segar lain: kewajiban aplikator menyediakan jaminan BPJS Kesehatan dan perlindungan kecelakaan kerja. Bagi driver seperti Budi, 42 tahun, yang pernah mengalami tabrakan ringan tahun lalu dan harus menanggung biaya pengobatan sendiri, ini bukan sekadar tambahan uang saku. Ini soal rasa aman.
Suara Langsung dari Lapangan: Harapan dan Kekhawatiran
Tak semua reaksi seragam, meski mayoritas penuh syukur. Di grup-grup WhatsApp komunitas ojol, obrolan malam itu penuh emoji hati dan tangan mengacung. “Akhirnya ada yang denger suara kita,” tulis salah seorang admin komunitas di Jakarta Selatan.
Namun, di balik kegembiraan, ada catatan hati-hati. Beberapa driver bertanya: apakah potongan 8 persen ini benar-benar bersih, atau ada biaya “tersembunyi” lain yang akan muncul kemudian? Ada juga yang khawatir aplikasi akan menaikkan tarif perjalanan kepada penumpang untuk menutupi kerugian mereka, sehingga order justru berkurang.
Seorang driver senior di Bandung yang sudah delapan tahun mengayuh motor ojol mengungkapkan nuansa itu dengan bijak. “Senang sih, tapi kita harus awasi bareng-bareng. Kalau aplikator nakal, ya kita lapor ke pemerintah. Jangan sampai kemenangan ini cuma sementara.”
Dampak Lebih Luas bagi Ekonomi Gig Worker
Kebijakan ini bukan hanya soal ojol. Indonesia memiliki jutaan pekerja gig economy dari driver ojek hingga kurir barang. Dengan aturan baru ini, pemerintah memberikan sinyal kuat: pekerja platform digital bukan “pekerja lepas” yang boleh dieksploitasi. Mereka adalah tulang punggung ekonomi digital yang patut dilindungi.
Dari sisi ekonomi makro, tambahan penghasilan driver berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat kelas menengah bawah. Uang yang tadinya mengalir ke kantong perusahaan asing atau investor, kini lebih banyak beredar di kantong rakyat kecil. Efek multiplier-nya bisa terasa di warung makan, sekolah anak, hingga bengkel motor.
Tentu saja, tantangan implementasi tetap ada. Aplikator besar seperti Gojek dan Grab harus menyesuaikan sistem mereka dalam waktu singkat. Pemerintah pun dituntut tegas melakukan pengawasan agar tidak ada celah penyalahgunaan. Edge case yang perlu diantisipasi misalnya: bagaimana dengan order promo atau multi-app yang selama ini jadi sumber pendapatan tambahan driver?
Langkah Selanjutnya: Bukan Akhir, Tapi Awal
Hari ini, Sabtu 2 Mei 2026, driver ojol kembali turun ke jalan dengan semangat baru. Banyak yang mengaku order pagi ini terasa lebih ringan di hati. “Kami tetap kerja keras seperti biasa,” kata salah seorang dari mereka. “Tapi sekarang kami tahu pemerintah ada di belakang kami.”
Kebijakan ini bisa menjadi preseden bagi sektor gig economy lain di masa depan. Jika berhasil, Indonesia berpotensi menjadi contoh bagi negara-negara berkembang lain dalam menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keadilan sosial.
Bagi para driver ojol, hari ini bukan sekadar tanggal baru di kalender. Ini adalah hari di mana suara mereka didengar. Alhamdulillah, kata mereka. Senang banget. Dan harapan mereka sederhana: semoga keadilan ini terus dijaga, bukan hanya di atas kertas, tapi di setiap trip yang mereka antar di jalan raya Indonesia.
Artikel ini disusun untuk memberikan pemahaman utuh bagi pembaca tentang dampak nyata kebijakan terbaru ini dari cerita pribadi driver, perhitungan sederhana, hingga implikasi jangka panjang. Bagaimana pendapat Anda? Bagikan di kolom komentar.

