Malapetaka Siklon Senyar: 78 Jiwa Terkubur Banjir Sumatra, Warga Bertahan Dramatis di Atap – Darurat 14 Hari, Siapa Penyelamat Terakhir?
Aceh menjadi korban terparah di ujung utara pulau. Di Pidie Jaya, satu keluarga beranggotakan tujuh orang ditemukan terkubur di bawah timbunan lumpur setebal tiga meter. “Saya cuma dengar teriakan minta tolong, lalu semuanya lenyap dalam hitungan detik,” cerita Hasan Basri, warga Gampong Blang yang rumahnya kini tinggal puing.
Sementara itu, di Sumatera Utara, Desa Kabanjahe dan sekitar Danau Toba praktis terisolasi. Jalan lintas provinsi putus total di tiga titik. Helikopter Basarnas terpaksa turun tangan menurunkan bantuan makanan dan obat-obatan karena truk bantuan tak bisa menembus genangan yang mencapai dada orang dewasa.
Yang paling memilukan terjadi di Nagari Sungai Jambu, Padang Pariaman. Seorang ibu bernama Rina (34) terpaksa mengikat ketiga anaknya di atas genteng rumah kontrakan sambil memeluk tiang listrik selama hampir 12 jam. “Airnya naik begitu cepat, saya sudah pasrah. Yang penting anak-anak selamat,” ujarnya dengan suara parau saat akhirnya dievakuasi Jumat dini hari.
BNPB resmi menetapkan status darurat bencana selama 14 hari ke depan untuk tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. “Kami prioritaskan evakuasi korban yang masih terjebak di atap-atap rumah dan bukit-bukit terjal,” tegas Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat konferensi pers darurat di Padang Panjang, Jumat siang.
Ribuan warga kini mengungsi di masjid, sekolah, dan aula kantor kecamatan. Antrean panjang terlihat di posko-posko kesehatan. Bayi-bayi menangis kehausan, lansia pingsan karena kelelahan. Listrik padam total di hampir seluruh Kabupaten Tanah Datar dan Agam. Sinyal telepon pun hilang timbul, membuat keluarga di luar daerah kalang kabut mencari kabar sanak saudara.
Di balik duka yang mencekik, cerita-cerita heroik juga bermunculan. Seorang pemuda bernama Dika (22) berhasil menyelamatkan 11 tetangganya dengan perahu karet seadanya. “Saya cuma mikir, kalau bukan kita yang saling bantu, siapa lagi?” katanya sambil tetap mengayuh perahu bolak-balik di tengah arus deras.
Hingga berita ini disiarkan, hujan dengan intensitas tinggi masih mengguyur sebagian besar wilayah Sumatra Barat. BMKG memperingatkan potensi banjir susulan dan longsor di sepanjang aliran Sungai Batang Anai serta lereng Gunung Marapi yang masih labil.
Pemerintah pusat telah mengirimkan tambahan 12 helikopter, 45 perahu karet, dan ratusan personel gabungan TNI-Polri serta relawan. Presiden bahkan dijadwalkan mengunjungi lokasi bencana besok pagi untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Bagi kita yang berada di luar zona merah, saat ini adalah waktu untuk bergerak. Satu karung beras, selimut, atau sekotak obat-obatan bisa menjadi penyelamat nyata bagi saudara-saudara kita yang sedang bertarung melawan dingin, lapar, dan trauma.
Sumatra sedang menangis. Tapi di balik air mata itu, masih ada harapan – selama kita tidak menutup mata dan telinga.

