Malu Dunia! Indonesia Dapat 'Fosil Terburuk' di COP30

Malu Dunia! Indonesia Dapat 'Fosil Terburuk' di COP30
(Foto : Beautynesia)

KabarsuarakyatLangit di atas Arena Amazônia masih terang, tapi wajah para delegasi Indonesia di COP30 mendadak kelam. Hari Rabu malam waktu setempat, tepat saat sesi pleno masih berlangsung, Climate Action Network (CAN), jaringan NGO iklim terbesar di dunia, mengumumkan penerima penghargaan satiris “Fossil of the Day”. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, trofi fosil berbentuk dinosaurus itu mendarat di tangan Indonesia.

Bukan sekali, tapi dua kali berturut-turut.

Sorak sorai dan tawa sarkastik menggema di ruang sidang ketika pembawa acara menyebut nama Indonesia. Di layar raksasa, foto delegasi resmi RI dengan latar belakang logo Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan muncul disandingkan dengan tulisan besar: “Selamat! Anda baru saja memenangkan gelar negara yang paling menghambat kemajuan iklim global hari ini.”

Reaksi di media sosial Tanah Air langsung meledak. Dalam hitungan jam, tagar #FossilIndonesia dan #MaluDuniaCOP30 meroket ke puncak trending Twitter Indonesia. Netizen ramai-ramai mempertanyakan: “Kok bisa sih kita dapat penghargaan memalukan begini?”

Apa Sebenarnya yang Terjadi di Belém?

Menurut catatan resmi CAN, Indonesia “berhasil” menyabet Fossil of the Day karena dua alasan besar:

Pertama, delegasi Indonesia ngotot mempertahankan klausul yang memungkinkan negara berkembang tetap menggunakan batu bara dengan dalih “keadilan iklim” dan “transisi yang bertahap”. Padahal, di hari yang sama, negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Bangladesh sudah menyodorkan komitmen baru untuk pensiun dini PLTU sebelum 2035.

Kedua, rombongan Indonesia datang dengan jumlah delegasi terbanyak kedua setelah tuan rumah Brasil, yaitu 312 orang. Yang bikin alis dunia naik: 46 di antar,故其 adalah perwakilan perusahaan batu bara, nikel, dan sawit. Nama-nama besar seperti Adaro Energy, Indika Energy, hingga korporasi tambang nikel yang sedang jadi sorotan karena kerusakan lingkungan di Weda Bay, tercantum jelas dalam daftar peserta resmi.

“Ini bukan konferensi iklim lagi, ini konferensi bisnis,” cetus seorang aktivis muda dari Jerman yang ikut menonton penyerahan Fossil of the Day sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Coal Lobby Out!”

Respons Pemerintah: Diam yang Bising

Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun pernyataan resmi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun juru bicara delegasi di Belém. Yang ada hanya pernyataan singkat dari Koordinator Tim Negosiasi Iklim Indonesia, “Kami sedang fokus memperjuangkan kepentingan nasional dan hak negara berkembang.”

Di dalam negeri, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan malah memposting foto dirinya sedang meeting dengan investor energi terbarukan di sela-sela COP30, seolah tak terjadi apa-apa.

Kenapa Ini Jadi Masalah Besar?

Bagi yang baru mendengar, Fossil of the Day memang cuma penghargaan satiris. Tapi dampaknya nyata. Ketika sebuah negara terus-terusan jadi langganan fosil, kredibilitasnya di panggung iklim dunia langsung ambruk. Investor hijau jadi ragu, bantuan iklim dari negara maju bisa tersendat, dan yang paling pahit: citra Indonesia sebagai negara yang serius menangani krisis iklim jadi dipertanyakan.

Padahal, di dalam negeri, kita sedang berbangga hati dengan target net sink karbon sektor kehutanan 2030 dan rencana pensiunkan PLTU 15 GW sebelum 2040. Tapi di Belém, semua itu seolah lenyap ditelan sorotan lampu sorot atas kehadiran lobby batu bara.

Suara Anak Muda Indonesia

Di tengah kekecewaan global, anak-anak muda Indonesia justru bergerak cepat. Puluhan aktivis dari berbagai kampus dan komunitas lingkungan menggelar aksi daring bertajuk “Kami Bukan Fosil”. Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengeluarkan perpres yang melarang perusahaan batu bara dan industri ekstraktif tinggi karbon menjadi bagian delegasi resmi di forum iklim internasional.

“Kami malu, tapi kami juga marah. Ini bukan cuma soal trofi dinosaurus, ini soal masa depan kami yang dijual murah,” ujar Nita, mahasiswa UI yang jadi salah satu penggagas petisi tersebut.

Petisi itu, dalam waktu kurang dari 24 jam, sudah ditandatangani lebih dari 180 ribu orang.

Lalu, Apa Langkah Selanjutnya?

COP30 masih akan berlangsung sampai 22 November mendatang. Masih ada waktu bagi Indonesia untuk membalikkan narasi. Beberapa pengamat menyarankan tiga langkah cepat yang bisa diambil delegasi:

  1. Segera umumkan komitmen baru pensiun dini PLTU, minimal 5 GW sebelum 2030.
  2. Keluarkan pernyataan resmi bahwa mulai tahun depan, delegasi iklim Indonesia hanya akan diisi oleh pejabat pemerintah dan akademisi, tanpa perwakilan industri fosil.
  3. Dorong Presiden Prabowo untuk melakukan pidato khusus di sesi high-level, menegaskan komitmen Indonesia terhadap 1,5 derajat Celsius.

Kalau tidak, besar kemungkinan trofi dinosaurus itu akan pulang kampung ke Jakarta minggu depan, dan kali ini bukan cuma satu, tapi mungkin tiga hari berturut-turut.

Indonesia sedang jadi bahan gunjingan dunia. Pertanyaannya sekarang: mau terus jadi fosil, atau mulai bergerak jadi solusi?

Tags:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar