Kematian Pertama di Dunia Akibat Flu Burung H5N5: Apakah Pandemi Baru Sudah di Depan Mata?

Kematian Pertama di Dunia Akibat Flu Burung H5N5: Apakah Pandemi Baru Sudah di Depan Mata?
(Foto : Indozone News)

KabarsuarakyatDunia kesehatan global dikejutkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran modern, seorang manusia meninggal dunia akibat infeksi virus flu burung subtipe H5N5. Kasus fatal ini terjadi di sebuah desa terpencil di Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, dan langsung memicu lampu merah di markas besar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa.

Korban adalah seorang petani ayam berusia 58 tahun bernama Li Wei (nama samaran demi privasi keluarga). Ia mulai menunjukkan gejala demam tinggi, batuk berdarah, dan sesak napas ekstrem pada 12 November 2025. Dalam waktu kurang dari 72 jam, kondisinya memburuk drastis hingga akhirnya meninggal dunia di rumah sakit rujukan pada 18 November malam.

Yang membuat para pakar terhenyak bukan hanya kecepatan virus ini membunuh, tapi fakta bahwa H5N5 selama ini dianggap “jinak” bagi manusia. Berbeda dengan H5N1 yang sudah puluhan tahun mengintai dan menelan ratusan korban, H5N5 jarang sekali terdeteksi melompat ke manusia. Selama dua dekade terakhir, hanya ada laporan sporadis tanpa satu pun kematian.

“Lompatan spesies ini sangat mengkhawatirkan,” ungkap seorang virolog senior yang enggan disebut namanya karena belum ada publikasi resmi. “Virus ini tampaknya telah bermutasi sehingga lebih mudah menempel pada reseptor di saluran napas manusia bagian atas. Itu artinya potensi penularan antarmanusia jadi jauh lebih besar ketimbang sebelumnya.”

Sampel yang diambil dari Li Wei menunjukkan virus H5N5 yang ia bawa memiliki dua mutasi kunci pada protein hemagglutinin (HA) – mutasi yang sama yang pernah membuat H5N1 menjadi mimpi buruk di tahun 2000-an awal. Yang lebih mengerikan, pemeriksaan kontak erat menemukan tiga anggota keluarga dan satu tenaga medis menunjukkan antibodi terhadap virus ini, meski belum ada yang sakit berat.

Saat ini, lebih dari 400 orang di sekitar desa tersebut sudah dikarantina. Ribuan ekor unggas di radius 5 kilometer dimusnahkan dalam operasi massal yang melibatkan ratusan tentara. Pemerintah Tiongkok langsung menutup semua pasar unggas hidup di Provinsi Jiangsu dan melarang pergerakan ayam hidup antarprovinsi.

Di balik layar, para ilmuwan di seluruh dunia berpacu dengan waktu. Laboratorium di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang sudah meminta sampel virus untuk diurutkan genomnya secara penuh. Hasil awal yang bocor ke kalangan tertentu menunjukkan virus ini memiliki kemampuan replikasi 30 kali lebih cepat di sel manusia dibandingkan H5N5 versi lama.

Pertanyaan besar yang kini menggantung: apakah kita sedang menyaksikan kelahiran “The Next Big One”?

Dr. Maria Van Kerkhove, kepala unit penyakit emerging WHO, dalam konferensi pers darurat tadi malam mengatakan, “Kami belum menemukan bukti penularan antarmanusia yang berkelanjutan, tapi semua tanda awal sangat mengkhawatirkan. Kami meningkatkan level kewaspadaan global ke fase 3 dari 6. Ini sinyal serius.”

Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan surat edaran ke seluruh dinas kesehatan provinsi untuk meningkatkan surveilans di pasar-pasar tradisional dan peternakan unggas. Bandara Soekarno-Hatta dan pelabuhan internasional mulai melakukan pemindaian suhu tubuh ekstra ketat terhadap penumpang dari Tiongkok daratan.

Bagi masyarakat awam, gejala yang perlu diwaspadai mirip dengan flu biasa pada tahap awal: demam mendadak di atas 38 derajat, batuk, nyeri tenggorokan, dan badan terasa remuk. Namun dalam kasus H5N5 ini, perkembangan ke pneumonia berat bisa terjadi dalam hitungan jam.

Para ahli sepakat mengingatkan satu hal: jangan panik, tapi jangan juga lengah.

“Pandemi tidak datang dengan pengumuman besar,” kata Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara. “Ia datang diam-diam lewat satu kasus, lalu dua, lalu tiba-tiba jutaan. Yang kita lakukan sekarang akan menentukan apakah H5N5 ini berhenti di Jiangsu, atau menjadi babak baru sejarah kelam umat manusia.”

Malam ini, dunia menahan napas. Satu nyawa telah melayang. Pertanyaannya bukan lagi “apakah bisa menular antarmanusia”, tapi “kapan kita akan melihat kasus kedua, ketiga, dan seterusnya?”

Kita semua berharap jawabannya adalah “tidak pernah”. Namun sejarah sudah terlalu sering mengajarkan bahwa alam tidak pernah benar-benar bertanya apa yang kita inginkan.

Tags:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar