Tragedi Banjir Bandang Sumut: 24 Jiwa Raib, 11 Daerah Lumpuh Total!
Kejadian terparah terjadi di Kabupaten Toba, Karo, Dairi, Samosir, dan Humbang Hasundutan. Arus air bah bercampur material lumpur dan kayu besar menyapu permukiman, jalan utama, hingga jembatan penghubung antarkecamatan. Di Kecamatan Paranginan, Humbang Hasundutan, satu desa terisolasi total setelah jembatan utama putus diterjang banjir setinggi tiga meter.
“Air datang tiba-tiba sekitar pukul 02.00 dini hari. Kami hanya sempat lari ke atas bukit sambil menggendong anak,” cerita Rina boru Sinaga, warga Desa Lumban Silintong, kepada wartawan di posko pengungsian, suaranya masih gemetar.
Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut menyebutkan, sedikitnya 11 kabupaten/kota terdampak parah: Toba, Samosir, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Pakpak Bharat, Simalungun, Deli Serdang, Langkat, dan Kota Pematangsiantar. Total 38.742 jiwa terdampak langsung, 8.215 di antaranya masih bertahan di 47 titik pengungsian darurat.
Listrik padam total di sebagian besar wilayah terdampak. Jaringan telepon dan internet pun terputus, menyulitkan koordinasi evakuasi. Tim SAR gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan masih berjuang membuka akses ke desa-desa terpencil yang tertimbun longsor.
Gubernur Sumatera Utara telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan. “Kami kerahkan segala sumber daya yang ada. Prioritas utama adalah pencarian korban hilang dan penyaluran bantuan logistik,” tegasnya saat meninjau lokasi bencana di Kecamatan Muara, Tapanuli Utara.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dijadwalkan tiba di Medan besok pagi untuk memantau langsung penanganan infrastruktur kritis yang rusak berat, termasuk ruas jalan lintas Sumatera yang terputus di beberapa titik.
Cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir pekan ini. BMKG menghimbau masyarakat di dataran tinggi dan lereng gunung untuk tetap waspada terhadap potensi banjir bandang susulan serta tanah longsor.
Di tengah duka yang menyelimuti, solidaritas sesama anak bangsa kembali terlihat. Truk-truk bantuan dari berbagai daerah mulai berdatangan membawa makanan, pakaian layak pakai, obat-obatan, hingga selimut. Namun, akses yang terbatas membuat distribusi bantuan masih terkendala berat.
Bencana kali ini menjadi pengingat pahit bahwa ancaman perubahan iklim semakin nyata. Alih fungsi hutan di kawasan Danau Toba dan pegunungan sekitarnya diduga turut memperparah daya rusak air bah.
Kita hanya bisa berdoa, semoga korban yang masih hilang segera ditemukan dalam keadaan selamat, dan warga Sumatera Utara diberi kekuatan untuk bangkit dari musibah yang kembali mengguncang tanah Deli ini.

