Tragedi Penculikan Anak BR: Dari Makassar ke Pedalaman Jambi, Modus Adopsi Online yang Mengintai Ratusan Korban!
Awal Mula Tragedi: Sebuah Iklan Adopsi yang Menggoda
Semuanya dimulai dari sebuah postingan sederhana di media sosial. Pada awal Oktober 2025, seorang wanita berusia 25 tahun di Makassar, yang kita sebut saja Ibu S, memutuskan untuk mencari orang tua angkat bagi bayi laki-lakinya yang baru lahir. Alasannya? Kondisi ekonomi yang sulit pasca-pandemi, ditambah tekanan dari keluarga yang tidak mendukung. Ia mengunggah foto bayi mungil itu di grup Facebook khusus adopsi anak, lengkap dengan deskripsi yang menyentuh hati: "Bayi sehat, butuh keluarga penuh kasih sayang."
Tak lama kemudian, respons datang dari akun misterius bernama "Adopsi Aman Indonesia". Pengelola akun itu, seorang pria yang mengaku sebagai perantara adopsi resmi, menawarkan bantuan cepat. "Kami punya calon orang tua kaya di Jambi yang siap mengadopsi. Proses legal, biaya ditanggung," begitu janjinya melalui pesan pribadi. Ibu S tergoda. Ia tak sadar, ini adalah pintu masuk ke sebuah sindikat kriminal yang telah beroperasi selama bertahun-tahun, memanfaatkan kerentanan orang tua miskin di daerah pinggiran.
Menurut laporan awal dari Polres Makassar, pertemuan pertama terjadi di sebuah kafe kecil di pinggir kota. Perantara itu, yang kemudian diketahui bernama Andi (nama samaran), datang dengan dokumen palsu yang tampak resmi. Ia meyakinkan Ibu S bahwa bayi akan dirawat dengan baik di keluarga baru. "Ini kesempatan emas untuk masa depan anakmu," katanya. Tanpa curiga, Ibu S menyerahkan bayi BR beserta akta kelahiran asli. Sebagai imbalan, ia mendapat uang tunai Rp 5 juta—jumlah yang tampak besar baginya saat itu.
Perjalanan Gelap ke Pedalaman Jambi: Jejak yang Hilang
Bayi BR menghilang begitu saja setelah penyerahan itu. Andi membawa sang bayi dalam perjalanan darat yang panjang, melintasi Selat Sunda menuju Pulau Sumatera. Tujuannya? Sebuah desa terpencil di pedalaman Jambi, di mana sindikat ini memiliki basis operasi tersembunyi. Desa itu, dikelilingi hutan lebat dan akses jalan yang sulit, menjadi tempat persembunyian ideal untuk anak-anak yang diculik.
Investigasi polisi mengungkap bahwa modus ini bukan hal baru. Sindikat adopsi online palsu ini menggunakan platform seperti Facebook, Instagram, dan bahkan aplikasi pesan instan untuk menjaring korban. Mereka menargetkan ibu-ibu muda yang kesulitan finansial, seringkali dari daerah pedesaan atau kota kecil seperti Makassar, Surabaya, dan Medan. "Kami menemukan pola yang sama: janji proses legal, pembayaran kecil di muka, lalu anak hilang tanpa jejak," ujar Komisaris Polisi Rudi Santoso, kepala tim investigasi dari Polda Jambi, dalam konferensi pers pekan lalu.
Dari data yang dikumpulkan, sindikat ini telah beroperasi sejak 2023, dengan korban mencapai ratusan anak. Banyak di antaranya dijual ke keluarga kaya di luar negeri melalui jaringan perdagangan manusia internasional. Bayi BR hanyalah salah satu dari sekian banyak. Perjalanannya ke Jambi memakan waktu dua hari, di mana ia disimpan di rumah transit di Lampung sebelum akhirnya tiba di desa tersebut. Di sana, anak-anak seperti BR "diproses" dengan identitas palsu, siap untuk diadopsi secara ilegal atau bahkan dieksploitasi lebih lanjut.
Mengungkap Jaringan: Operasi Gabungan yang Dramatis
Kabar hilangnya bayi BR pertama kali dilaporkan oleh Ibu S pada 10 Oktober 2025, setelah Andi tak lagi merespons pesannya. Polisi Makassar segera berkoordinasi dengan Polda Sulawesi Selatan dan Jambi. Operasi gabungan melibatkan tim cyber crime untuk melacak akun media sosial sindikat tersebut. "Kami menggunakan teknologi pelacakan digital untuk menemukan lokasi server mereka, yang ternyata berbasis di Jakarta," jelas Rudi.
Puncaknya terjadi pada 5 November 2025, ketika tim SWAT menyerbu desa di Jambi. Di sebuah rumah kayu sederhana, mereka menemukan 15 anak kecil, termasuk bayi BR, yang sedang disiapkan untuk dikirim ke Malaysia. Pemimpin sindikat, seorang wanita berusia 40-an bernama Mira, ditangkap bersama lima anggotanya. Mira, yang ternyata mantan pekerja sosial palsu, mengaku modus ini terinspirasi dari kasus-kasus adopsi ilegal di masa lalu. "Kami hanya membantu keluarga yang butuh anak," dalihnya saat diinterogasi.
Dalam penggerebekan itu, polisi menyita dokumen palsu, perangkat komputer, dan catatan transaksi yang menunjukkan omzet sindikat mencapai miliaran rupiah per tahun. Lebih mengejutkan lagi, mereka menemukan bukti keterlibatan oknum notaris yang membantu memalsukan akta adopsi. Ini menunjukkan betapa dalamnya akar masalah ini, melibatkan bukan hanya penjahat jalanan, tapi juga profesional yang korup.
Dampak pada Korban: Luka yang Tak Terlihat
Bagi Ibu S, reuninya dengan bayi BR adalah momen bahagia sekaligus pilu. "Saya menyesal telah percaya begitu saja," katanya sambil menangis saat diwawancarai di rumah sakit Makassar, di mana bayi BR menjalani pemeriksaan kesehatan. Anak itu, untungnya, dalam kondisi baik meski mengalami dehidrasi ringan akibat perjalanan panjang.
Namun, tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi ratusan keluarga lain. Banyak orang tua yang kehilangan anak mereka selamanya, karena sindikat ini sering menjual korban ke luar negeri. Data dari Kementerian Sosial memperkirakan ada setidaknya 200 kasus serupa yang belum terungkap di Indonesia tahun ini saja. Dampak psikologis pada anak-anak korban juga tak kalah parah: trauma yang bisa berlangsung seumur hidup, dari kehilangan identitas hingga risiko eksploitasi.
Masyarakat pun tergerak. Kampanye #LindungiAnakIndonesia ramai di media sosial, dengan ribuan pengguna berbagi tips pencegahan. "Jangan pernah lakukan adopsi tanpa melalui lembaga resmi seperti Dinas Sosial," pesan seorang aktivis hak anak di Jakarta.
Pencegahan dan Harapan ke Depan: Saatnya Bertindak
Kasus penculikan anak BR ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang bahaya dunia maya. Modus adopsi online palsu semakin marak karena kemudahan akses internet, tapi juga karena kurangnya regulasi ketat. Pemerintah telah berjanji memperkuat Undang-Undang Perlindungan Anak, termasuk pembentukan tim khusus cyber patrol untuk memantau grup adopsi ilegal.
Bagi calon orang tua angkat, saran dari ahli: Selalu verifikasi melalui lembaga negara. "Adopsi bukan transaksi cepat; itu proses panjang yang melibatkan psikolog dan hukum," kata Dr. Lina, psikolog anak dari Universitas Indonesia.
Di akhir cerita ini, bayi BR kini aman di pelukan ibunya. Tapi bagi ratusan korban lain, perjuangan masih panjang. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai pelajaran: Di balik kemudahan digital, selalu ada bayang-bayang bahaya. Waspadalah, lindungi anak-anak kita, karena mereka adalah masa depan bangsa.

