Banjir Aceh Tamiang 3 Desember 2025: 22 Korban Tewas, Ribuan Warga 7 Hari Kelaparan & Minum Air Banjir – Bantuan Airdrop Mulai Masuk Tapi Krisis Belum Berakhir!

Banjir Aceh Tamiang 3 Desember 2025: 22 Korban Tewas, Ribuan Warga 7 Hari Kelaparan & Minum Air Banjir
(Foto : Detik.com)

KabarsuarakyatHari ke-7 banjir bandang melanda Aceh Tamiang, situasi di lapangan semakin memilukan. Hingga Rabu malam ini, 3 Desember 2025, jumlah korban jiwa telah mencapai 22 orang, dengan ratusan lainnya masih dilaporkan hilang. Ribuan warga terisolasi total, terpaksa bertahan hidup dengan meminum air banjir yang keruh dan berbau lumpur, sementara perut mereka keroncongan karena tak ada makanan masuk selama hampir seminggu penuh.

Curah, hujan deras yang tak henti sejak akhir November itu akhirnya mereda Selasa malam. Tapi air bah yang datang dari hulu Sungai Tamiang dan Sungai Alas masih menggenangi 12 kecamatan, dengan ketinggian di beberapa titik mencapai 4-5 meter. Rumah-rumah penduduk tenggelam, jalan utama putus total, jembatan ambruk, dan listrik mati sejak hari pertama.

“Kami sudah tujuh hari tidak makan nasi. Anak-anak menangis kelaparan, yang ada cuma air banjir yang kami saring pakai kain,” cerita Siti Aminah, 38 tahun, warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Manyak Payed, saat dihubungi melalui telepon satelit yang masih nyala di posko darurat. Suaranya terdengar lemah, terputus-putus oleh isakan.

Di dusun-dusun terpencil seperti Bukit Tempurung, Tanjung Mancang, dan Seuneubok, warga benar-benar terputus dari dunia luar. Helikopter yang dikerahkan sejak Senin baru berhasil melakukan airdrop pertama pada Rabu siang ini. Paket makanan instan, air mineral, selimut, dan obat-obatan dilempar dari udara karena tak ada cara lain untuk menjangkau.

“Alhamdulillah, tadi pagi ada helikopter lewat, lempar bantuan. Tapi masih kurang, Bu. Satu dus makanan harus dibagi untuk puluhan keluarga,” kata Zulkifli, koordinator relawan lokal di Karang Baru.

Korban Jiwa Terus Bertambah, Mayat Masih Mengapung di Sungai

Data terakhir dari Posko Tanggap Darurat BPBD Aceh Tamiang menyebutkan 22 jenazah telah berhasil dievakuasi hingga pukul 19.00 WIB. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan lansia yang tak sempat menyelamatkan diri saat banjir bandang datang tengah malam.

Seorang nenek berusia 72 tahun di Desa Sidodadi ditemukan meninggal dalam pelukan cucunya yang baru berusia 5 tahun. Sang cucu selamat, tapi kini trauma berat. “Dia terus menangis memanggil neneknya,” ujar relawan yang mengevakuasi mereka.

Tim SAR gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan masih terus menyisir sungai dan reruntuhan rumah. Banyak mayat yang terbawa arus hingga puluhan kilometer, bahkan ada laporan jenazah warga Aceh Tamiang ditemukan di perairan Aceh Timur.

Bantuan Airdrop Mulai Masuk, Tapi Jauh dari Cukup

Pemerintah pusat akhirnya mengirimkan 12 helikopter dari Lanud Malikul Saleh dan Lanud Medan untuk operasi airdrop massal mulai Rabu ini. Total 8 ton bantuan berhasil didrop di 7 titik terisolasi. Besok, Kamis 4 Desember, operasi akan diperluas menjadi 20 sorti penerbangan.

Namun, jumlah itu masih sangat minim dibandingkan kebutuhan. Lebih dari 45.000 jiwa terdampak banjir, 12.000 di antaranya benar-benar terisolasi tanpa akses jalan darat sama sekali.

“Kami butuh minimal 50 ton makanan dan air bersih per hari untuk wilayah terisolasi saja,” tegas Plt Bupati Aceh Tamiang, Tgk. Anwar, saat rapat koordinasi darurat malam ini.

Jalan Putus, Jembatan Ambruk, Evakuasi Darat Masih Mustahil

Jalan nasional Lhokseumawe – Medan di beberapa titik masih terendam dan tertimbun longsor. Jembatan utama di Bendungan Tuwah masih ambruk total. Alat berat yang dikirim dari Langsa dan Medan baru bisa masuk paling cepat Jumat besok.

Sementara itu, harga kebutuhan pokok di wilayah yang masih bisa dijangkau melonjak gila-gilaan. Telur ayam Rp 5.000 per butir, beras Rp 25.000 per liter, minyak goreng sudah tak ada lagi.

Warga Mulai Putus Asa: “Kapan Kami Diselamatkan?”

Di pengungsian sementara di Mesjid Raya Manyak Payed, ratusan warga duduk lesu di atas tikar basah. Anak-anak demam, batuk, dan diare massal karena minum air banjir. Stok obat di puskesmas sudah habis sejak hari ketiga.

“Kami bukan minta banyak, Pak. Cukup makan sehari dua kali dan air bersih. Sudah tujuh hari kami seperti binatang, minum air comberan,” keluh Rahman, 45 tahun, sambil menggendong anaknya yang sudah lemas karena kelaparan.

Malam ini, langit Aceh Tamiang kembali gelap tanpa listrik. Hanya suara tangis anak-anak dan deru helikopter sesekali yang memecah keheningan. Banjir belum surut total, hujan ringan masih mengguyur, dan ancaman banjir susulan masih mengintai.

Krisis kemanusiaan terburuk di Aceh Tamiang dalam satu dekade terakhir ini belum berakhir.
Ribuan nyawa masih bergantung pada kecepatan bantuan yang datang.

Doa dan solidaritas dari seluruh Indonesia kini sangat dibutuhkan.
Aceh Tamiang sedang menangis.
Dan tangisan itu belum akan reda malam ini.

Tags:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar