Banjir Bandang Sapu Bersih Pancuran 13 Guci Tegal, Kolam Air Panas Ikonik Lenyap Disapu Arus Deras
Banjir bandang ini bermula dari hujan deras yang mengguyur wilayah lereng Gunung Slamet sejak siang hari. Intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan Sungai Gung meluap secara tiba-tiba. Air bah berwarna cokelat keruh, bercampur lumpur tebal, pasir, batu besar, dan potongan kayu, mengalir deras dari hulu sungai menuju kawasan wisata.
Sekitar pukul 15.00 WIB, arus mulai menerobos masuk ke area pemandian. Pengunjung dan petugas yang sedang beraktivitas langsung panik. Beberapa wisatawan yang tengah berendam di kolam air panas terpaksa berlari mencari tempat aman. Untungnya, evakuasi berjalan cepat sehingga tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Kerusakan paling parah terjadi di spot ikonik Pancuran 13, yang selama ini menjadi magnet utama bagi ribuan pengunjung setiap akhir pekan. Kolam pemandian air panas alami yang legendaris itu lenyap total, tersapu arus deras hingga tak tersisa bentuknya. Jembatan kecil penyeberangan yang menghubungkan area pancuran juga hanyut tanpa jejak. Pipa-pipa distribusi air panas yang mengalir ke hotel dan vila di sekitar kawasan pun banyak yang putus dan terbawa banjir.
Tidak hanya Pancuran 13, area Pancuran 5 juga terdampak signifikan. Material banjir menutupi hampir seluruh permukaan, membuat fasilitas pemandian tak bisa digunakan. Lumpur setinggi lutut orang dewasa menyelimuti jalur pejalan kaki, sementara bebatuan besar berserakan di mana-mana. Suasana yang biasanya dipenuhi tawa dan aroma belerang air panas, kini berganti dengan bau lumpur basah dan keheningan pasca-bencana.
Petugas setempat dan tim penanggulangan bencana langsung bergerak. Aparat kepolisian mengamankan perimeter, sementara relawan dan warga bahu-membahu membersihkan material. Proses pembersihan dilakukan secara gotong royong, dengan alat berat dikerahkan untuk mengangkat batu-batu besar. Hingga Minggu pagi, 21 Desember 2025, sebagian besar area sudah mulai dibersihkan, meski perbaikan pipa dan kolam diperkirakan memakan waktu lebih lama.
Banjir bandang di Guci bukanlah kejadian pertama. Kawasan yang berada di kaki Gunung Slamet ini memang rawan bencana kiriman dari hulu, terutama saat musim hujan. Namun, kejadian kali ini tergolong salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena langsung menyapu fasilitas inti wisata.
Pihak pengelola wisata mengimbau masyarakat dan calon pengunjung untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem. Meski proses perbaikan sedang berlangsung intensif, kawasan Guci sementara ditutup untuk umum hingga dinyatakan aman sepenuhnya. Bagi yang berencana liburan akhir tahun ke destinasi air panas ini, disarankan memantau update terkini.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa alam selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kekuatannya. Guci, dengan keindahan air panasnya yang menyembuhkan, kini sedang "istirahat" sejenak untuk pulih. Semoga segera kembali menyambut wisatawan dengan senyuman hangat seperti sedia kala.

