Bonnie Blue Tuai Kecaman Global: Hina Bendera RI di Kedutaan London!

Bonnie Blue Tuai Kecaman Global: Hina Bendera RI di Kedutaan London!
(Foto : Detik.com)

KabarsuarakyatDi tengah hiruk-pikuk perayaan Natal yang seharusnya penuh damai, dunia maya justru diramaikan oleh kontroversi besar yang melibatkan influencer kontroversial Bonnie Blue. Pada 24 Desember 2025, aksi nekatnya di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London memicu gelombang kecaman dari berbagai penjuru dunia. Apa sebenarnya yang terjadi, dan mengapa insiden ini menjadi sorotan utama di media sosial serta berita internasional? Mari kita kupas tuntas secara mendalam agar Anda bisa memahami akar masalahnya.

Kronologi Kejadian yang Menggemparkan

Semuanya bermula pada pagi hari yang dingin di London, ketika Bonnie Blue, seorang content creator asal Inggris yang dikenal dengan konten provokatifnya, muncul di depan gedung KBRI. Dalam video live yang diunggahnya ke platform media sosial, Blue terlihat memegang replika bendera Merah Putih Indonesia dan melakukan tindakan yang dianggap menghina: ia menginjak-injak bendera tersebut sambil tertawa dan melontarkan komentar sarkastis tentang "simbol negara yang lemah". Video berdurasi kurang dari dua menit itu langsung viral, ditonton jutaan kali dalam hitungan jam.

Menurut saksi mata yang berada di lokasi, Blue datang seorang diri, mengenakan pakaian serba hitam dengan aksesoris yang mencolok, seolah-olah ingin menarik perhatian. Ia juga membawa spanduk kecil bertuliskan slogan anti-imperialisme yang ambigu, yang justru menambah kebingungan. Petugas keamanan KBRI segera bertindak, meminta Blue meninggalkan area tersebut, tetapi video sudah telanjur menyebar luas. Ini bukan kali pertama Blue terlibat kontroversi; sebelumnya, ia pernah menuai kritik karena kontennya yang sering menyentuh isu sensitif seperti politik internasional dan budaya asing.

Latar Belakang Bonnie Blue: Siapa Sebenarnya Dia?

Bagi yang belum familiar, Bonnie Blue bukanlah nama baru di dunia digital. Wanita berusia 28 tahun ini memulai karirnya sebagai vlogger perjalanan, tapi lambat laun bergeser ke konten yang lebih sensasional. Dengan jutaan pengikut di Instagram dan TikTok, Blue sering membahas topik kontroversial untuk mendongkrak engagement. Beberapa analis media menyebut strategi ini sebagai "rage baiting" – sengaja memprovokasi kemarahan untuk mendapatkan views dan like.

Apa motif di balik aksi ini? Blue mengklaim dalam video lanjutannya bahwa tindakannya adalah bentuk protes terhadap kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya terkait isu lingkungan dan hak asasi manusia di Papua. Namun, banyak yang meragukan niatnya, mengingat gaya penyampaiannya yang lebih mirip pencarian sensasi daripada aktivisme sejati. "Ini bukan protes, ini penghinaan murahan," kata seorang netizen Indonesia di komentar video tersebut. Latar belakang ini penting untuk dipahami, karena tanpa konteks, insiden ini bisa disalahartikan sebagai konflik diplomatik besar.

Gelombang Kecaman dari Berbagai Penjuru

Reaksi terhadap aksi Blue datang seperti badai. Komunitas Indonesia di Inggris langsung menggelar demonstrasi kecil di depan KBRI, menuntut permintaan maaf resmi dari Blue. Menteri Luar Negeri Indonesia, dalam konferensi pers darurat pada sore hari ini, menyatakan bahwa pemerintah sedang berkoordinasi dengan otoritas Inggris untuk menyelidiki insiden tersebut. "Penghinaan terhadap simbol negara adalah pelanggaran serius terhadap norma internasional," tegasnya.

Tidak hanya dari Indonesia, kecaman juga datang secara global. Organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International mengecam aksi Blue sebagai "bentuk rasisme terselubung", sementara influencer dari berbagai negara, termasuk Amerika dan Australia, ikut angkat bicara. Di Twitter (sekarang X), hashtag #BoycottBonnieBlue trending worldwide, dengan ribuan tweet yang menyerukan penghapusan akunnya. Bahkan, selebriti Hollywood seperti aktor terkenal yang memiliki akar Asia Tenggara turut berkomentar, menyebut aksi ini sebagai "puncak kebodohan di era digital".

Di sisi lain, pendukung Blue – meski minoritas – membela dengan argumen kebebasan berpendapat. Mereka berpendapat bahwa di negara demokrasi seperti Inggris, protes semacam ini dilindungi undang-undang. Namun, argumen ini cepat dibantah oleh pakar hukum internasional, yang menjelaskan bahwa penghinaan terhadap simbol negara bisa dijerat dengan pasal anti-penodaan, terutama jika melibatkan hubungan diplomatik.

Dampak Jangka Panjang: Dari Media Sosial hingga Diplomasi

Insiden ini tak hanya berhenti di level online. KBRI London telah melaporkan kejadian ke polisi setempat, dan ada kemungkinan Blue akan menghadapi tuntutan hukum. Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga citra negara di mata dunia, terutama di tengah upaya memperkuat hubungan bilateral dengan Inggris pasca-Brexit.

Bagi Blue sendiri, kariernya berada di ujung tanduk. Beberapa brand yang pernah berkolaborasi dengannya sudah menyatakan mundur, dan platform media sosial mulai membatasi jangkauan kontennya. Ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi content creator: batas antara provokasi dan penghinaan sangat tipis, dan konsekuensinya bisa merusak segalanya.

Mengapa Ini Penting untuk Kita Semua?

Di era di mana informasi menyebar lebih cepat dari cahaya, insiden seperti ini mengajarkan kita untuk lebih bijak dalam menyikapi konten provokatif. Bagi pembaca di Indonesia, ini adalah momen untuk bangga dengan simbol negara kita, sekaligus waspada terhadap upaya yang merendahkan. Sementara bagi komunitas global, ini mengingatkan akan pentingnya menghormati budaya dan simbol satu sama lain.

Tags:
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar