Karangan Bunga Protes Bullying Penabur Kelapa Gading Raib Misterius, Orang Tua Murid: "Sekolah Lindungi Pelaku!
"Ini pembuktian nyata! Sekolah sengaja hilangkan barang bukti karena melindungi anak pejabat!" teriak Rina Wijaya, ibu dari korban bullying berusia 14 tahun, saat ditemui wartawan di depan gerbang sekolah, Senin pagi.
Kasus ini bermula dua pekan lalu ketika putra Rina, yang kita sebut inisial AR, menjadi korban perundungan sistematis oleh sekelompok siswa kelas atas. Video AR dipukuli di toilet sekolah viral di media sosial sejak Jumat malam, memicu kemarahan publik yang luar biasa.
Dalam video berdurasi 47 detik itu, terlihat jelas AR didorong ke dinding, ditampar berulang kali, sementara pelaku tertawa-tawa sambil merekam. "Lo pikir lo pinter ya? Nih rasain!" teriak salah satu pelaku yang suaranya terdengar sangat jelas.
Minggu malam, sekitar pukul 22.00 WIB, puluhan karangan bunga tiba secara bertubi-tubi. Ada yang bertuliskan "Turut Berduka Atas Matinya Keadilan di Penabur", ada pula yang lebih pedas: "Selamat Tinggal Moral, Pelaku Bullying Anak Pejabat Dilindungi".
Namun Senin pagi pukul 05.30, ketika orang tua murid mulai berdatangan, karangan bunga itu sudah raib. Saksi mata bernama Pak Slamet, satpam kawasan sekitar, mengaku melihat dua truk pickup tanpa plat nomor mengangkut semua papan bunga sekitar pukul 03.00 dini hari.
"Saya kira acara sekolah. Ternyata pas saya tanya ke sekolah, mereka bilang bukan urusan mereka," cerita Pak Slamet.
Yang lebih mengejutkan, CCTV sekolah yang menghadap gerbang utama tiba-tiba "rusak" tepat pada malam kejadian. "Sudah dua minggu ini memang lagi bermasalah," kilah salah seorang staf sekolah yang enggan disebut namanya.
Rina Wijaya dan puluhan orang tua lain kini berkumpul di depan sekolah dengan membawa spanduk bertuliskan "Kami Butuh Keadilan, Bukan Perlindungan Pelaku!" Mereka menuntut kepala sekolah turun tangan dan memecat pelaku bullying.
"Saya sudah lapor polisi sejak Sabtu. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda penahanan. Katanya masih 'dididik'. Dididik apa? Anak saya sampai trauma berat, takut ke sekolah!" ungkap Rina dengan suara bergetar.
Dari informasi yang berkembang, salah satu pelaku utama diduga anak pejabat tinggi di instansi pemerintahan. Hal ini membuat kasus semakin pelik dan memicu spekulasi luas di masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan pukul 14.00 WIB, pihak sekolah BPK Penabur Kelapa Gading belum memberikan keterangan resmi. Nomor telepon humas yang biasa aktif, hari ini tidak dapat dihubungi.
Kasus bullying di sekolah elite Jakarta ini kembali membuka luka lama masyarakat Indonesia tentang ketimpangan hukum: yang kaya dan berkuasa selalu lolos, yang lemah selalu jadi korban.
Akankah kasus Penabur Kelapa Gading jadi titik balik penegakan hukum anti-bullying di Indonesia? Atau hanya jadi berita viral dua hari lalu dilupain?
Yang jelas, karangan bunga mungkin sudah raib. Tapi suara orang tua korban tidak akan pernah hilang.

