Gelombang Banjir Sumatra Guncang Negeri: Prabowo Gerakkan TNI, Tapi Cukupkah 'Pahlawan' untuk Selamatkan Ribuan Jiwa?

Gelombang Banjir Sumatra Guncang Negeri: Prabowo Gerakkan TNI, Tapi Cukupkah 'Pahlawan' untuk Selamatkan Ribuan Jiwa?
(Foto : Merdeka.com)

KabarsuarakyatHujan deras yang tak kenal ampun sejak akhir November telah mengubah wajah Sumatra menjadi lautan cokelat yang mengamuk. Dari Aceh hingga Sumatera Barat, dari Tapanuli hingga Lampung bagian utara, air bah datang tanpa peringatan. Jalan nasional terputus, ribuan rumah terendam, sawah yang baru ditanami padi lenyap dalam semalam. Lebih dari 350.000 jiwa terdampak, puluhan korban jiwa, dan angka itu masih terus bertambah.

Di tengah keputusasaan itu, satu nama terus diucapkan oleh warga yang terkurung banjir: Prabowo Subianto.

Dua hari setelah laporan pertama masuk ke meja Presiden, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mendapat perintah langsung: “Kerahkan segalanya. Jangan ada satu pun warga yang kelaparan karena banjir.”
Sejak itu, langit Sumatra dipenuhi deru helikopter Super Puma dan Caracal. Truk-truk hijau TNI AD mengular di jalan yang masih bisa dilalui. Kapal-kapal karet Kodam I/Bukit Barisan menyusuri sungai yang sudah tak lagi tahu batasnya. Dalam waktu kurang dari 72 jam, lebih dari 12.000 paket sembako, 8.000 selimut, dan ratusan ton beras telah sampai ke tangan warga.

“Ini pertama kalinya kami lihat bantuan datang secepat ini,” kata Maimunah, 48 tahun, warga Koto Tangah, Padang, yang rumahnya kini hanya tersisa atapnya. “Dulu harus nunggu berminggu-minggu. Kali ini, anak-anak sudah bisa makan nasi hangat malam ini.”

Kecepatan yang Mengagumkan, Tapi…

Kecepatan respons pemerintahan Prabowo-Gibran memang patut diacungi jempol. Sistem komando satu pintu yang langsung melibatkan TNI sebagai garda terdepan terbukti efektif di fase darurat. Bandara-bandara kecil di daerah terpencil tiba-tiba ramai oleh pesawat Hercules yang mendarat membawa logistik. Posko-posko induk dibangun dalam hitungan jam.

Namun, di balik gambar-gambar heroik tentara yang menggendong anak-anak dan lansia, ada pertanyaan besar yang mulai menggantung di benak banyak pihak: apakah “mode pahlawan” ini cukup untuk menyelamatkan Sumatra dari ancaman yang sebenarnya jauh lebih besar?

Sebab, banjir kali ini bukan sekadar bencana tahunan biasa. Curah hujan ekstrem yang mencapai 400 mm dalam 24 jam, kerusakan hutan di hulu sungai yang sudah di luar batas kritis, dan sistem drainase kota yang sudah puluhan tahun tak pernah diperbarui, semuanya berpadu menjadi bom waktu yang kini meledak.

Infrastruktur yang Terlambat, Korban yang Tak Harus Ada

Di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, seorang ayah bernama Zainal harus menyaksikan putrinya yang berusia tujuh tahun hanyut terserat arus hanya karena jembatan gantung satu-satunya putus. Di Aceh Tamiang, ratusan hektare tambak ikan bandeng milik petani hilang total. Di Lampung, jalan lintas tengah Sumatra terputus total di tiga titik, membuat harga kebutuhan pokok di Bandar Lampung melonjak hingga 70 persen dalam semalam.

Para pakar hidrologi sudah berulang kali memperingatkan: tanpa bendungan pengaman, tanpa reboisasi hutan lindung yang serius, tanpa perbaikan sistem drainase kota, banjir seperti ini akan datang lagi—mungkin lebih ganas—tahun depan, atau bahkan musim hujan berikutnya.

Prabowo Sudah Bergerak, Tapi ke Mana Arahnya?

Di Istana Negara, sumber terpercaya menyebut Presiden Prabowo telah menggelar rapat terbatas khusus membahas “strategi jangka panjang penanggulangan bencana iklim di Sumatra”. Salah satu opsi yang santer dibicarakan adalah pembentukan Komando Gabungan Penanggulangan Bencana Nasional yang dipimpin langsung oleh seorang jenderal aktif, dengan anggaran khusus yang tak lagi tergantung APBD daerah.

Ada pula wacana ambisius: membangun 12 bendungan besar di Sumatra bagian barat dalam lima tahun ke depan, proyek yang pernah diimpikan sejak era Soeharto namun selalu kandas karena biaya dan ego sektoral.

Namun, semua itu masih sebatas wacana. Sementara itu, di lapangan, prajurit TNI masih harus berjibaku dengan perahu karet dan helikopter tua yang kadang mogok di tengah misi.

Indonesia di Persimpangan

Banjir Sumatra 2025 ini ibarat cermin besar yang dipaksakan menghadap bangsa ini. Di satu sisi, kita melihat negara yang mampu bergerak cepat, pemimpin yang tak ragu memerintahkan “all-in”, dan tentara yang kembali menjadi penyelamat rakyat di saat paling gelap.

Di sisi lain, kita juga melihat negara yang masih saja terkejut setiap kali bencana datang—padahal semua data, semua peringatan, sudah ada di depan mata bertahun-tahun.

Pertanyaan yang kini menggantung bukan lagi “apakah pemerintah bertindak cepat”, tapi “apakah kita akhirnya akan bertindak cerdas”.

Sebab, pahlawan dengan seragam loreng memang bisa datang menyelamatkan hari ini.
Tapi hanya kita—seluruh bangsa ini—yang bisa memastikan tak ada lagi hari esok yang perlu diselamatkan.

Semoga gelombang banjir kali ini menjadi yang terakhir yang membuat kita hanya bereaksi.
Bukan lagi sekadar berlari mengejar air, tapi akhirnya belajar membendungnya sejak dari hulu.

Indonesia sedang menunggu jawaban itu.
Sumatra sedang menunggu.
Dan waktu, seperti air bah, tak pernah menunggu siapa pun.

Tags:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar