Ledakan Baterai Drone Picu Neraka Api: 22 Jiwa Raib di Gedung Terra Drone, Kisah Pilu Ibu Hamil Terjebak Asap Beracun

Ledakan Baterai Drone Picu Neraka Api: 22 Jiwa Raib di Gedung Terra Drone, Kisah Pilu Ibu Hamil Terjebak Asap Beracun
(Foto : Jambi One)

KabarsuarakyatMalam yang seharusnya biasa saja di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk. Pada Senin malam, 8 Desember 2025, gedung kantor Terra Drone Indonesia di Jalan Mampang Prapatan Raya mendadak diterjang kobaran api yang lahir dari hal paling tak terduga: baterai litium-ion milik drone yang sedang di-charge.

Kebakaran yang bermula dari lantai satu itu hanya butuh hitungan menit untuk menelan nyawa 22 orang. Bukan api yang membunuh, melainkan asap hitam pekat beracun yang menyelinap cepat melalui tangga sempit dan lorong-lorong sempit gedung tujuh lantai itu.

“Semuanya terlalu cepat,” kata Andi, salah satu karyawan yang berhasil selamat karena kebetulan berada di lantai dasar saat kejadian. “Dalam sekejap, alarm berbunyi, lampu padam, dan asap sudah masuk ke hidung seperti belerang panas.”

Menurut keterangan para penyintas, ledakan pertama terdengar seperti petasan raksasa sekitar pukul 19.45 WIB. Dalam hitungan detik, ruang penyimpanan baterai drone di lantai satu sudah menyemburkan lidah api setinggi tiga meter. Baterai litium-ion yang dikenal ganas ketika thermal runaway langsung memicu reaksi berantai: satu baterai meledak, menyulut yang lain, dan dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh ruangan berubah menjadi tungku neraka.

Yang membuat tragedi ini semakin kelam adalah korban mayoritas adalah karyawan muda yang sedang lembur. Dari 22 nyawa yang hilang, 15 di antaranya perempuan. Salah satu yang paling memilukan adalah Rika Ayu Lestari, 29 tahun, seorang staf administrasi yang sedang hamil tujuh bulan. Ia sedang berada di lantai lima saat asap mulai naik.

“Saya telepon dia berkali-kali, tidak diangkat,” ujar suaminya, Dimas, dengan suara parau di depan RS Polri Kramat Jati, Selasa pagi. “Terakhir dia bilang mau pulang cepat karena janji periksa kandungan. Ternyata itu pesan terakhir.”

Rika ditemukan dalam posisi meringkuk di sudut ruang rapat lantai lima, tangannya masih melindungi perut. Bayi yang dikandungnya pun tak terselamatkan.

Kebanyakan korban tewas bukan karena terbakar, melainkan keracunan karbon monoksida dan hidrogen sianida yang dilepaskan saat baterai litium terbakar. Asap berwarna hitam legam itu menyebar dengan kecepatan luar biasa karena sistem ventilasi gedung justru menarik asap ke atas, bukan mengeluarkannya.

“Tangga hanya satu, lebarnya kurang dari satu meter,” ungkap Komandan Regu Pemadam yang turun tangan malam itu. “Ketika kami sampai, asap sudah setebal kabut di lantai tiga sampai tujuh. Visibilitas nol. Kami hanya bisa meraba-raba sambil berdoa.”

Hingga Rabu pagi ini, 10 Desember 2025, proses identifikasi jenazah masih berlangsung. Beberapa keluarga sudah bisa membawa pulang anggota keluarganya setelah tes DNA selesai, namun sebagian lain masih menunggu dengan wajah penuh harap dan air mata.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengunjungi lokasi kejadian kemarin sore. Ia terlihat menunduk lama di depan karangan bunga yang bertumpuk di trotoar. “Ini duka mendalam bagi kita semua,” katanya singkat. “Kami akan evaluasi total gedung-gedung perkantoran yang menyimpan baterai litium dalam jumlah besar. Kejadian ini harus jadi yang terakhir.”

Sementara itu, pihak Terra Drone Indonesia menyatakan duka cita mendalam dan berjanji bertanggung jawab penuh atas keluarga korban. Namun, banyak pihak kini mempertanyakan prosedur penyimpanan dan pengisian baterai drone yang selama ini dianggap “biasa saja” di banyak startup teknologi.

Malam ini, Jalan Mampang Prapatan Raya masih dipenuhi lilin dan karangan bunga. Di antara deretan foto 22 wajah yang tersenyum di atas meja duka, terdengar isak tangis pelan yang seolah menolak percaya bahwa hidup bisa berakhir begitu cepat—hanya karena satu baterai kecil yang meledak di lantai satu.

Tragedi Terra Drone bukan sekadar angka 22 korban. Ia adalah pengingat keras bahwa di era teknologi yang melaju kencang, ada harga nyawa yang terlalu mahal untuk diabaikan.

Tags:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar