Tragedi Nganjuk Mengguncang: Suami Polisi Habisi Istri & Dua Anak Kandung dengan Sadis – Motif Cemburu Buta Terungkap!

Tragedi Nganjuk Mengguncang: Suami Polisi Habisi Istri & Dua Anak Kandung dengan Sadis – Motif Cemburu Buta Terungkap!
(Foto : Tribunnews.com)

KabarsuarakyatRumah kecil di Desa Sugihwaras, Kecamatan Nganjuk, yang biasanya ramai tawa anak-anak, kini hanya tersisa tangis pilu dan bau anyir darah. Satu keluarga hancur dalam semalam. Elvy Nurhayati (38), bersama dua putrinya, Nabila (12) dan Zahra (8), ditemukan tewas bersimbah darah di kamar tidur mereka pada Selasa dini hari, 25 November 2025. Pelakunya bukan orang asing, melainkan orang yang seharusnya melindungi mereka: suami sekaligus ayah kandung, Bripka RS (41), anggota Polres Nganjuk yang bertugas di bagian lalu lintas.

Kejadian tragis itu terbongkar setelah tetangga mendengar jeritan minta tolong sekitar pukul 02.30 WIB, namun sudah terlambat. Saat polisi mendobrak pintu, pemandangan mengerikan terhampar: Elvy tergeletak di lantai dengan belasan luka tusuk di dada dan leher. Nabila dan Zahra, yang masih memakai seragam sekolah SD karena baru pulang les malam, ditemukan di atas kasur dengan kondisi serupa. Senjata yang digunakan adalah pisau dapur panjang 30 cm yang biasa dipakai memotong daging kurban.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, Bripka RS berhasil ditangkap di sebuah warung kopi di wilayah Kediri, 60 km dari lokasi kejadian. Saat ditangkap, ia masih mengenakan seragam dinas lengkap dan tak menunjukkan perlawanan. Di hadapan penyidik, pria yang selama ini dikenal ramah dan rajin salat berjamaah itu akhirnya mengaku melakukan perbuatan biadab tersebut seorang diri.

“Cemburu. Saya sudah lama curiga istri saya selingkuh dengan temen kerja,” ujar RS dengan suara datar saat rekonstruksi, Jumat (28/11/2025) kemarin. Rekonstruksi yang dihadiri ratusan warga itu berlangsung dramatis. RS memeragakan bagaimana ia menusuk Elvy yang sedang tertidur pulas, lalu berpindah ke kamar anak-anak dan menghabisi Nabila serta Zahra yang terbangun karena mendengar jeritan ibunya.

Menurut pengakuan RS, pertengkaran hebat terjadi malam itu karena ia menemukan chat mesra di ponsel istrinya. Meski Elvy bersumpah itu hanya teman biasa, api cemburu sudah membakar logika sang suami. Ia mengambil pisau dari dapur, mengunci pintu depan, lalu melancarkan aksi pembantaian tanpa ampun. Bahkan saat Zahra yang masih kelas 2 SD memohon, “Papa jangan, aku takut…”, RS tetap menghujamkan pisau berkali-kali.

Keluarga besar korban hingga kini masih tak percaya. “Mereka keluarga harmonis di mata kami. Pak RS sering antar jemput anak les, sering ajak makan di luar. Mana ada tanda-tanda mau begini,” ujar kakak ipar Elvy sambil terisak.

Kapolres Nganjuk AKBP Boy Herlambang menyatakan Bripka RS kini ditahan di sel khusus dan dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 80 UU Perlindungan Anak, dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. Pihak Polres juga telah mencopot jabatan RS dan menonaktifkannya dari dinas kepolisian.

Hingga berita ini diturunkan, ratusan karangan bunga duka cita masih berdatangan ke rumah duka. Foto Nabila dan Zahra yang tersenyum manis di atas peti jenazah menjadi pengingat betapa tragisnya akhir sebuah rumah tangga yang dulu pernah hangat.

Tragedi Nganjuk ini kembali membuka luka lama masyarakat Indonesia: betapa cemburu buta dan ego maskulin beracun masih bisa merenggut nyawa tak berdosa, bahkan dari tangan orang yang sehari-hari mengucap sumpah melindungi dan mengayomi.

Semoga keadilan segera tegak. Dan semoga Nabila serta Zahra mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Tags:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar