Prabowo: Hentikan Korupsi, Kemiskinan Indonesia Hilang!
Bayangkan, Indonesia yang kaya raya akan sumber daya alam, lahan subur, dan potensi manusia sebesar 280 juta jiwa, masih didera kemiskinan struktural. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan nasional masih mengintai di kisaran 9 persen, atau sekitar 25 juta orang yang berjuang bertahan di bawah garis layak hidup. Belum lagi kemiskinan ekstrem yang menyisakan luka sosial: anak-anak tak bergizi, keluarga tanpa tempat tinggal layak, dan roda ekonomi bawah yang mandek. Prabowo paham betul, ini bukan soal nasib sial, tapi soal pengelolaan yang amburadul.
Acara akad massal KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ini bukan sekadar seremoni. Ini prestasi nyata pemerintah tahun 2025, dengan total penyaluran rumah subsidi mencapai 266.000 unit – melampaui rekor tahun sebelumnya. Sebanyak 300 penerima hadir langsung, sementara sisanya daring dari 33 provinsi. Mereka beragam: tukang pijat, guru honorer, nelayan, prajurit TNI, hingga pedagang kopi keliling. Presiden sendiri menyerahkan kunci simbolis kepada 10 perwakilan, sambil berpesan, "Rumah ini bukan akhir, tapi awal kesejahteraan kalian."
Tapi, di balik senyum bahagia para penerima, Prabowo menusuk akar masalah. "Kita harus introspeksi. Indonesia belum cakap mengelola kekayaannya," katanya. Korupsi, katanya, seperti virus yang melemahkan yang paling rentan. Setiap rupiah yang diselewengkan berarti satu anak tak sekolah, satu keluarga tanpa makan malam, satu desa tanpa infrastruktur. "Pemerintah bersih adalah kunci kebangkitan bangsa. Ribuan tahun sejarah dunia membuktikannya," tegasnya, mengingatkan pelajaran dari negara-negara maju yang bangkit dari lumpur korupsi.
Presiden tak lupa berbagi cerita pribadi yang menyentuh. Ia teringat pesan terakhir ayahnya, Profesor Sumitro Djojohadikusumo, sang ekonom hebat yang wafat dalam kondisi lemah di kursi roda. "Prabowo, kalau bingung dan ragu-ragu, ingat: selalu berpihak pada rakyatmu," begitu wasiatnya. Kata-kata itu kini jadi kompas Prabowo. "Saya pegang teguh itu. Yang lemah harus diberdayakan dulu, karena dia yang akan hidupkan seluruh ekonomi."
Apa artinya ini secara praktis? Prabowo menjanjikan pembersihan aparat negara dari oknum korup. Mulai dari digitalisasi pengadaan barang/jasa untuk tutup celah mark-up, penegakan hukum tanpa pandang bulu, hingga pengawasan ketat atas aliran dana publik. "Hentikan segala tipu-menipu! Kalau yang paling lemah berdaya, ekonomi bergulir deras," ujarnya. Ini selaras dengan program unggulan seperti makan bergizi gratis, sekolah rakyat, dan koperasi desa Merah Putih – strategi holistik untuk kemandirian ekonomi rakyat.
Tantangan masih besar. Korupsi tak hilang dalam semalam; ia sudah sistemik, merasuk birokrasi hingga BUMN. Tapi tekad Prabowo terasa beda: bukan retorika kampanye, melainkan aksi lapangan. Tahun ini saja, penyaluran subsidi perumahan melonjak, bansos tepat sasaran via data tunggal, dan kasus korupsi besar mulai terbongkar. "Saya bertekad bersihkan aparat. Pemerintah bersih, kesejahteraan datang," janjinya.
Bagi rakyat kecil seperti Pak Slamet, tukang cukur penerima kunci hari ini, ini harapan nyata. "Dulu ngontrak, sekarang punya rumah sendiri. Kalau korupsi hilang, anak saya bisa kuliah," ceritanya lirih. Prabowo mengangguk setuju. Hari ini, di Serang, bukan hanya 50.030 kunci rumah yang diserahkan, tapi juga kunci masa depan: Indonesia bebas kemiskinan, bebas korupsi.
Apakah janji ini akan terwujud? Waktu akan jawab. Yang pasti, pesan Prabowo bergema: berhenti curi-curi rakyat, atau kemiskinan takkan pernah pergi. Bangsa ini butuh lebih dari keyakinan – butuh aksi tegas sekarang juga.

