Terra Drone Pusat Buka Suara: Minta Maaf atas Tragedi Kebakaran Tewaskan 22 Karyawan!
Dalam pernyataan resmi yang dirilis kemarin, pihak pusat Terra Drone menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada masyarakat, pelanggan, serta semua pihak yang terdampak. "Kami menyampaikan permintaan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan dan kekhawatiran yang timbul akibat peristiwa ini," bunyi salah satu kutipan dari pernyataan tersebut. Perusahaan yang berbasis di Jepang ini menegaskan sedang menyelidiki dampak kebakaran terhadap operasional bisnis mereka.
Tragedi bermula sekitar pukul 12.10 siang, saat sebagian besar karyawan sedang beristirahat makan siang. Api diduga berasal dari baterai drone yang tersimpan di lantai dasar gedung ruko tujuh lantai tersebut. Ledakan kecil awalnya sempat dipadamkan dengan alat pemadam ringan, namun api dengan cepat menjalar disertai asap pekat yang mematikan.
Asap tebal itulah yang menjadi pembunuh utama. Dari 22 korban jiwa – terdiri atas 15 perempuan dan 7 laki-laki – sebagian besar ditemukan tanpa luka bakar berat, melainkan karena menghirup gas beracun dan kehabisan oksigen. Beberapa korban bahkan sempat mengirim pesan suara terakhir kepada keluarga, menggambarkan kepanikan saat terjebak di lantai atas.
Sementara itu, sekitar 19 karyawan lain berhasil selamat setelah berlari ke atap gedung dan dievakuasi secara dramatis oleh petugas pemadam kebakaran. Proses pemadaman melibatkan puluhan unit mobil damkar dan ratusan personel, baru berhasil dikendalikan setelah berjam-jam.
Manajemen PT Terra Drone Indonesia juga menyatakan komitmen penuh untuk mendampingi keluarga korban. Mereka berjanji memberikan bantuan finansial, pendampingan psikologis, serta segala dukungan yang diperlukan. "Keselamatan karyawan selalu menjadi prioritas utama kami. Kami akan transparan dalam proses investigasi bersama pihak berwenang," tegas pernyataan lokal perusahaan.
Kebakaran ini bukan hanya menyoroti risiko penyimpanan baterai lithium di tempat kerja, tapi juga memicu pertanyaan soal standar keselamatan gedung perkantoran di ibu kota. Gedung yang dipakai Terra Drone Indonesia merupakan ruko standar dengan akses terbatas, yang menyulitkan evakuasi saat situasi darurat.
Pihak berwenang masih mendalami penyebab pasti, termasuk kemungkinan kelalaian. Investigasi forensik sedang berlangsung untuk memastikan apakah ada pelanggaran aturan keselamatan yang bisa dicegah.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi industri teknologi drone yang sedang berkembang pesat di Tanah Air. Terra Drone, sebagai penyedia layanan survei udara terkemuka, kini fokus pada pemulihan dan penghormatan terakhir bagi para korban yang gugur di tempat kerja mereka sendiri.
Keluarga korban masih menanti keadilan dan dukungan jangka panjang. Semoga duka ini menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa tak terulang di masa depan.
.webp)
