Tragedi Maut Kalibata: 6 Oknum Polisi Mabes Keroyok Dua Mata Elang hingga Tewas, Picu Kerusuhan Massal
Semua bermula dari sebuah penghentian rutin di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalan Raya Kalibata sore itu. Sekitar pukul 15.45 WIB, dua mata elang menghentikan seorang pengendara sepeda motor yang diduga menunggak cicilan kendaraan. Tindakan standar dalam tugas penagihan ini seharusnya berjalan biasa, namun situasi dengan cepat memanas ketika sebuah mobil di belakang pengendara motor tersebut berhenti.
Dari mobil itu, turun enam pria yang langsung mendekati kedua mata elang. Tanpa banyak bicara, mereka mulai memukuli korban dengan tangan kosong. Pengeroyokan berlangsung ganas; kedua korban diseret ke area parkir depan Taman Makam Pahlawan Nasional (TMP) Kalibata, tepat di sekitar tenda pedagang kaki lima. Di sana, serangan semakin brutal hingga salah satu korban meregang nyawa di tempat, sementara yang lain mengembuskan napas terakhir di rumah sakit setelah berjuang melawan luka parah.
Yang mengejutkan publik, keenam pelaku ternyata oknum polisi aktif dari Satuan Pelayanan Markas Mabes Polri. Motif awal diduga berasal dari ketidaksetujuan mereka terhadap cara penagihan, terutama saat kunci kontak motor dicabut paksa. Emosi yang memuncak membuat situasi tak terkendali, meski mereka seharusnya menjadi penegak hukum yang menjaga ketertiban.
Kabar kematian dua mata elang dengan cepat menyebar di kalangan rekan mereka. Malam harinya, ratusan orang yang diduga dari kelompok serupa berdatangan ke lokasi. Amarah membara berubah menjadi aksi anarkis: kios-kios pedagang dirusak, gerobak dibakar, dan sejumlah kendaraan menjadi sasaran. Api menyala di beberapa titik, menerangi malam yang mencekam dengan asap tebal dan jeritan warga yang panik. Kerugian materiil diperkirakan mencapai miliaran rupiah, dengan belasan lapak hangus, motor terbakar, dan mobil rusak parah.
Pagi berikutnya, kawasan yang biasa ramai itu berubah sunyi. Garis polisi membentang panjang, petugas membersihkan puing-puing, dan warga pedagang hanya bisa pasrah melihat usaha mereka lenyap dalam semalam. Banyak dari mereka kehilangan modal untuk bangkit kembali, sementara keluarga korban mata elang berduka atas kehilangan yang tak tergantikan.
Kepolisian bergerak cepat menangani kasus ini. Keenam oknum langsung ditetapkan sebagai tersangka, menghadapi ancaman hukuman berat atas penganiayaan yang menyebabkan kematian. Selain proses pidana, mereka juga akan menjalani sidang kode etik internal yang bisa berujung pada pemberhentian tidak hormat. Penyelidikan terus berlanjut untuk mengungkap detail lebih lanjut, termasuk apakah ada faktor lain yang memperburuk situasi.
Tragedi Kalibata ini menjadi pengingat pahit akan betapa rapuhnya ketertiban sosial ketika emosi mengalahkan akal sehat. Di satu sisi, praktik penagihan utang di jalan raya sering menuai kontroversi karena dianggap kasar dan memicu konflik. Di sisi lain, tindakan oknum penegak hukum yang justru melanggar aturan semakin memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap institusi.
Masyarakat kini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penagihan kendaraan bermotor, agar tidak lagi berujung pada kekerasan. Sementara itu, kawasan Kalibata perlahan pulih, tapi luka dari peristiwa ini akan lama terpatri di ingatan warga. Kejadian ini juga membuka diskusi lebih luas: bagaimana mencegah konflik serupa di masa depan, demi kota yang lebih aman dan harmonis.

