Heboh! 53 Balita Diikat di Daycare Little Aresha Yogya, 13 Tersangka Termasuk Bos Yayasan
Penggerebekan dramatis dilakukan Jumat (24 April 2026) sore oleh tim Satreskrim Polresta Yogyakarta. Saat itu, petugas langsung disuguhi pemandangan yang memilukan. Beberapa balita ditemukan tangan dan kakinya diikat menggunakan tali atau kain, sementara sebagian lagi hanya mengenakan popok dan dibiarkan di lantai ruangan sempit. Kondisi ini jauh dari bayangan orang tua yang menitipkan anak demi mencari pengasuhan terbaik.
Dari total 103 anak yang pernah dititipkan di daycare tersebut, polisi memverifikasi 53 di antaranya mengalami kekerasan fisik, verbal, serta penelantaran berat. Ruangan berukuran hanya sekitar 3x3 meter kerap dijejali hingga 20 anak sekaligus. Para balita usia 1 hingga 5 tahun ini diduga diikat dengan berbagai alasan, mulai dari rewel hingga sulit tidur siang. Beberapa anak menunjukkan luka lebam, bekas jerat tali, dan tanda-tanda trauma yang jelas terlihat.
Modus Kekerasan yang Diduga Sistematis
Penyelidikan awal mengungkap bahwa praktik tidak manusiawi ini berlangsung cukup lama. Para tersangka diduga saling menutupi dan bekerja sama melakukan pengikatan serta penelantaran. Daycare Little Aresha yang selama ini tampak premium dan ramah anak ternyata beroperasi tanpa izin resmi dari dinas terkait. Hal ini semakin memperburuk citra lembaga tersebut di mata publik.
Setelah gelar perkara intensif, polisi langsung menahan 13 tersangka. Mereka terdiri dari satu orang kepala yayasan, satu kepala sekolah atau penanggung jawab operasional, serta 11 pengasuh atau caregiver. Ancaman hukuman yang menanti sangat berat sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak, yaitu hingga 15 tahun penjara dan denda miliaran rupiah.
Orang Tua Korban Dilanda Syok dan Kemarahan
Reaksi orang tua murid tak kalah emosional. Banyak yang baru menyadari penderitaan anaknya setelah kasus ini terbongkar. “Saya titipkan anak saya agar bisa bekerja tenang, tapi malah ini yang terjadi. Anak pulang sering menangis ketakutan dan ada memar di tubuhnya,” cerita seorang ibu dengan suara bergetar saat ditemui di lokasi.
Tak sedikit orang tua yang berbondong-bondong mendatangi kantor polisi untuk memberikan keterangan. Mereka menuntut keadilan secepatnya dan ganti rugi atas trauma yang dialami buah hati mereka. Kasus ini juga memicu gelombang kemarahan di media sosial. Banyak netizen mengecam keras oknum yang tega menyakiti anak-anak tak berdaya demi “kemudahan pengasuhan”.
Dampak Trauma Jangka Panjang bagi Balita
Psikolog anak menegaskan bahwa kekerasan di usia dini bisa meninggalkan bekas mendalam. Balita yang sedang dalam masa emas perkembangan justru kehilangan rasa aman terhadap orang dewasa. Akibatnya, mereka berisiko mengalami gangguan kecemasan, sulit percaya, masalah tidur, hingga kesulitan bersosialisasi di kemudian hari.
Pemerintah Kota Yogyakarta dan Dinas Pemberdayaan Perempuan serta Perlindungan Anak (DP3A) DIY sudah menyiapkan tim trauma healing. Puluhan balita korban saat ini menjalani pemeriksaan medis dan pendampingan psikologis intensif. Harapannya, intervensi dini bisa memulihkan kondisi mereka sebelum trauma semakin membekas.
Pemkot Yogya Akan Lakukan Sweeping Besar-besaran
Kasus Little Aresha langsung memicu respons cepat dari pemerintah daerah. Wali Kota Yogyakarta menyatakan akan melakukan razia menyeluruh terhadap seluruh daycare dan tempat penitipan anak di wilayahnya. “Kami tidak akan membiarkan ada lagi lembaga yang membahayakan anak. Pengawasan harus diperketat mulai dari izin operasional hingga standar pengasuhan,” tegasnya.
Daycare Little Aresha kini telah disegel dan seluruh kegiatannya dihentikan sementara. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk aktif melapor jika menemukan indikasi kekerasan atau pengelolaan daycare yang tidak layak.
Pelajaran Berharga bagi Orang Tua
Kasus ini menjadi wake-up call bagi semua orang tua yang bekerja. Memilih daycare bukan sekadar soal harga dan lokasi. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan antara lain:
- Pastikan daycare memiliki izin resmi dari Dinas Pendidikan atau Dinas Sosial.
- Lakukan kunjungan mendadak untuk melihat langsung interaksi pengasuh dengan anak.
- Perhatikan rasio jumlah pengasuh terhadap anak (idealnya tidak terlalu banyak anak per pengasuh).
- Amati perilaku dan kondisi fisik anak setiap kali pulang dari daycare.
- Dengarkan cerita anak dan jalin komunikasi rutin dengan pengasuh.
Kasus kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta ini sekali lagi membuktikan betapa rentannya anak-anak jika berada di tangan yang salah. Di balik janji pengasuhan terbaik, masih ada oknum yang tega menyakiti balita demi keuntungan pribadi.
Polisi masih terus mendalami kasus ini dan tidak menutup kemungkinan penambahan tersangka. Sementara itu, masyarakat Yogyakarta menanti keadilan yang tegas bagi 53 balita korban. Semoga tragedi ini menjadi momentum perbaikan sistemik agar tidak ada lagi anak yang menjadi korban kekerasan di tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua mereka.

